Punya modal usaha tidak, jiwa sebagai pebisnis pun tidak ada. Dari zaman sekolah hanya tertarik di dunia politik dan sosial, basic hitung - hitungan pun masih sangat minin dan standard. Bima merupakan Anak terakhir dari 5 Bersaudara, dari kecil memang sangat dimanja oleh kedua orang tuanya, membuat beliau menggampangkan segala hal dalam hidupnya. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, Bima menjadi pribadi yang mandiri dan berusaha untuk Bangkit. Ketika kuliah semester 7 bima membuat tugas akhir dengan membuat sebuah Ide membangun usaha Rumah makan, dan 2 Tahun setelah menjalankan usaha tersebut, Bima pun bangkrut karena warung makannya sudah tidak laku. Padahal awal mula Bima memulai usahanya, yakni menyisihkan uang jajannya semasa Kuliah Semester 7 lalu buka usaha kecil kecilan Rumah makan sampai 2 tahun kedepan. Ternyata Tuhan berkata lain atas usaha kecil kecilan Rumah Makan Bima.

 Kemudian Bima memutar otak sekiranya Usaha apa yang bisa menghasilkan uang cukup banyak tanpa perlu khawatir bahan baku kadaluarsa atau busuk. Karena jika memiliki Usaha Rumah Makan, resiko sayur yang dihangatkan itu sangat tinggi karena tidak mungkin mengolah makanan baru lagi jika sayur kemarin belum habis dibeli. Bima terus berdiskusi dengan sanak saudaranya dan ke 4 Kakaknya, akhirnya Bima masih belum menemukan Usaha apa yang harus dia buat. Sampailah akhirnya bima berbicara dengan teman kuliahnya dulu yang menyarankan Bima untuk membuka Toko Bangunan. Bima langsung mengiyakan karena menurut Bima, hanya toko Bangunan lah yang bahan baku atau bahan yang dijual tidak akan kadaluarsa sampai kapanpun dan punya nilai jual tiap tahunnya pasti agak naik sedikit.

Karena hasil usaha Rumah Makannya tutup, membuat Bima tidak ada modal untu sewa tempat baru dan stock barang jualan, akhirnya Bima tidak gengsi untuk meminta bantuan kepada teman kuliahnya tadi yang ternyata seorang pemiliki Toko Bangunan juga, untuk membagi setengah barang barang jualannya kepada Bima, untuk Bima tata di Rumahnya yang akan disulap menjadi Toko Bangunan Halaman Belakang. Tak banyak yang Bima ketahui tentang Alat-alat Bangunan, tapi beliau hanya bermodal Nekad dan meniru total apa yang temannya lakukan dalam hal menjual stock barang tadi.

Dengan modal stock barang yang dibagi oleh temannya tadi, membuat Bima harus mau tidak mau membagi hasil dengan temannya. Sudah satu tahun berlalu usaha ternyata berlalu begitu saja, modal tidak ketutup yang ada semakin berhutang pada temannya karena sering ambil barang. Akhirnya temannya menyuruh menjual Tangki Air GRAHAEXCEL, seperti biasa awalnya Bima takut untuk menjual Tangki Air GRAHAEXCEL, karena barang nya besar makan tempat dan susah jual karena tidak semua orang butuh Tangki Air GRAHAEXCEL tiap bulannya. Beliau awalnya tidak mau, namun diyakinkan oleh temannya kalau Tangki Air GRAHAEXCEL banyak peminatnya, gampang jualnya. Temannya pun membackup , jika tidak laku dalam 2 bulan temannya bersedia beli tangki Air tersebut.

Benar saja, dalam waktu 1 bulan Bima sudah ramai didatangi Pembeli Toren Air EXCEL , bahkan tak disangka temannya membantu jika Kapasitas tangki di Tokonya tidak ada, maka pelanggannya tersebut disuruh untuk membeli ke Toko Bangunan Halaman Belakang milik Bima, Toko Bangunan Halaman Belakang milik bima memang tidak memiliki luas bangunan yang memadai, tapi luas tanah cukup lebar dan luas. Jadi sudah terjadi paralel buying, dan temannya sudah mengatur strategi untuk memajukan Toko Bangunan Halaman Belakang milik Bima dengan mengatur proporsi tangki. Tangki Air GRAHAEXCEL berukuran besar, hanya dijual di Toko Bangunan Ahmad, milik teman Bima dan Tangki Air GRAHAEXCEL berukuran kecil hanya dijual di Toko Bangunan Bima. Strategi itu cukup berhasil, dan membuat Bima dikunjungi oleh banyak Pembeli Toren Air. Karena strategi Ahmad ia menjual tangki besar khusus untuk penempatan wilayah industri dan peternakan, sementara Bima untuk penempatan wilayah perumahan, dan Pembeli Toren Air ecer. Masing - masing Pembeli Toren Air memiliki kebutuhannya masing - masing, Pembeli Toren Air ecer hanya memfokuskan pada kebutuhan pribadi dan bisa terjadi word of mouth antara Pembeli Toren Air ecer dengan anggota keluarga dekatnya atau tetangganya, sehingga penjualan pada Toko Bangunan Halaman Belakang milik Bima menjadi lebih cepat dan menghasilkan untung lebih. Sementara untuk Toko Bangunan Ahmad, karena target marketnya adalah Pembeli Toren Air yang memiliki Pabrik, dan Peternakan maka sangatlah susah untuk terjadinya word of mouth , tapi sekalinya mendapatkan proyek besar dan pabriknya memiliki cabang misalnya, maka akan mendapat untung besar tapi jika sepi ya sepi.

Sekarang Sobat EXCEL tinggal pilih!

Mau untung kecil tapi stabil seperti Toko Bangunan Halaman Belakang milik Bima atau untuk besar tapi hanya sesekali dan tidak stabil seperti Toko Bangunan Ahmad? Intinya semua ada plus minusnya. Namun Hebatnya Bima dengan tidak bermodalkan apa apa, ibaratnya hanya modal menjualkan barang teman, beliau bisa memiliki pemasukan yang stabil walau untung kecil, dari yang hanya mempekerjakan 2 karyawan kini memiliki 7 karyawan karena Pembeli Toren Air GRAHAEXCEL di Toko Bangunan Halaman Belakang milik Bima semakin banyak, dan semakin ramai. Dengan memberikan sudut pandang ini, bukan berarti Toko Bangunan Ahmad sepi dari Pembeli Toren Air GRAHAEXCEL ya, namun kita hanya akan fokus ke Bima.

Kisah inspiratif ini membawa kita pada 3 kesimpulan yakni Jangan Takut untuk memulai usaha tanpa modal, manfaatkanlah koneksi yang ada. Kedua Ciptakan segmen yang berbeda dengan toko bangunan yang lain, Ketiga jangan malu untuk menanyakan ide improvisasi usaha pada siapapun. Tahukah Sobat EXCEL bahwa, Strategi tersebut bertahan 1 Tahun lamanya, Pembeli Toren Air semakin ramai datang ke kedua Toko Bangunan Tersebut, yakni Toko Bangunan Ahmad dan Toko Bangunan Bima. Karena Apa? karena mereka berdua sudah berhasil menentukan segmen masing masing sehingga tidak terjadi perebutan Pembeli Toren Air yang sudah merupakan Pelanggan tetap atau Pembeli Toren Air yang masih baru.